Monday, 8 September 2008
Thursday, 4 September 2008
Tuesday, 2 September 2008
Friday, 22 August 2008
Thursday, 14 August 2008
Saturday, 9 August 2008
Saturday, 2 August 2008
Friday, 1 August 2008
Puisi-Puisi

SULUK KESEIMBANGAN
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin
Ya Allah,
jadikan hamba air
sembunyi di kerendahan
jadikan hamba tanah
berdiam dalam kesunyian
jadikan hamba udara
memfanakan keberadaan
jadikan hamba api
menerima penolakan!
Ya Allah,
bila kemuliaan disepelekan
bila kesabaran dihinakan
bila kekuasaan dituankan
bila kesombongan diberhalakan
ubah hamba
jadi bah jadi gempa jadi badai jadi kebakaran
sampai keadilan ditubuhkan
sampai keseimbangan dikembalikan!
SULUK JAMAN AKHIR
Doa Pembuka: Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Pendi Sukarjo, Mei Sri Ningsih, Muhammad Nur Zaini
Jaman wis akhir, jaman wis akhir
bumi porak-poranda, langit menganga
udaranya tercemar, laut merana
tanah-air diacak, api menyala
warisannya dikuras, gelap pandangan
orang nabrak tatanan, racun di tanam
dunia tanpa aturan, semua dimakan
rezim pikiran sesat, yang penting menang
memburu bayang-bayang, lintang pukang
Pohon-pohonnya tumbang, gundul hutannya
hewan-hewannya hilang, oleng timbangan
limbah dimana-mana, hidup terancam
benihnya diperkosa, sakit menikam
tipuan dibiakkan, cacat mendekam
disandera masa depan, gali kuburan
burung-burung bertapa, sendiri di ujung senja
daun-daun berdoa, tenggelam di cakrawala
Jaman wis akhir, jaman wis akhir
SULUK PINTU TERKUNCI
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin, Muhammad Nur Zaini
Kuketuk pintu itu beribu kali
tak juga jawaban diberi
kugedor pintu itu berjuta kali
tak juga kau peduli.
Bermilyar kali kita mencoba bertegur sapa
bermilyar kali kita mencoba tukar bicara
tapi pintumu tetap tak terbuka
Kita cuma bersaing suara
membisingkan udara dengan kata
Kuketuk pintu itu beribu kali
tapi kau selalu berlari
kugedor pintu itu berjuta kali
tapi kau malah sembunyi.
Bermilyar sudah isyarat disampaikan
bermilyar sudah tanda dikibarkan
tapi kau terus sibuk dengan impian
membangun pintu demi pintu
yang kau kira menyelamatkan.
Benteng-benteng yang kau bangun, betapapun kokoh kau bayangkan
betapapun indah berhias taman
tak menyelamatkanmu dari kenistaan.
Pintu-pintunya yang terkunci, membuatmu diasingkan kenyataan
dan, pada saatnya, kamu akan diludahi masa depan
Kamu akan diburu huruf-huruf yang kamu semburkan
akan ditelikung jejak-jejak yang kamu torehkan.
Tanah akan berontak dan membuatmu kalang kabut
laut akan melecehkan proyek-proyek masa depan
gunung akan mempertontonkan kekerdilan nalarmu
sementara udara akan menjepit napasmu
dan orang mulai menyumpahi caramu mengemudikan gelombang.
Kemana kau akan berlari?
Kepada para perancang yang ongkang-ongkang di luar sana?
Percayalah, mereka akan tunggang langgang
membiarkanmu sendirian dimangsa kekerasan
Apalagi yang akan dibanggakan?
Gedung-gedung, rencana-rencana, kemudahan-kemudahan?
Kenyamanan, keserbamewahan, sarana, teknologi, ilmu pengetahuan?
Bahkan sejak dulupun ini selalu berulang
jadi tak perlu membusungkan dada atas kemajuan
karena kerapuhan dan kekerdilan tak bisa disembunyikan.
Apakah lupa yang kamu andalkan?
Jangan terlalu percaya!
Lupa cuma beredar pada manusia, yang gampang terpikat perubahan warna
Tapi tidak daun-daun,
tidak udara, tidak air, tidak tanah, tidak cahaya
catatannya tak terhapus apa saja
dan akan memburumu tanpa jeda.
Sudahlah, kamu cuma memutar cerita yang sudah bosan dikisahkan
betapapun segenap tenaga dikerahkan
sejarah tak bisa dihadang
betapapun segenap rekayasa disebarkan
matahari tak bisa ditutupi tangan.
Kamu akan termangu
kaget oleh kenyataan yang dadakan menikam,
sementara pintu yang kau agungkan tak menjaga dari kepastian
bahkan jadi sembilu yang menusuk dari belakang.
Kuketuk pintu itu beribu kali
tapi kau selalu terbirit pergi
kugedor pintu itu berjuta kali
tapi kau malah memaki-maki.
Ah, teruslah bermimpi
teruslah menari sampai kau kaget sendiri
ketika bangun, rumahmu sudah dicuri
PANTUN JADI-JADIAN
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin
Ini pantun jadi-jadian
ditulis karena penat oleh kehidupan
Makin hari makin tidak karuan
benar salah cuma soal kekuasaan
Wong bodo kalah karo wong pinter
Wong pinter kalah karo wong bejo
Wong bejo kalah karo wong nekad
Wong nekad kalah karo wong edan!
Negeri ini suka bercanda
pemimpinnya makin lucu saja
Rakyat diajari taat aturan
pemimpinnya malah ugal-ugalan.
Ada asap ada api,
lumpur panas jangan dianggap mimpi
obral janji ya obral janji
kalau ditagih, jangan dibayar janji lagi!
Ini negeri aneh tapi nyata
penduduknya dua macam saja
Yang satu pontang panting cari kerja
yang satunya ongkang-ongkang nilep uang negara.
Kali ilang kedunge
pasar ilang kumandange
pemimpin ilang wirange
negara ilang regane
Jaman akhir, banyak yang nelangsa
bicara boleh saja, didengar urusan lainnya
Kalau tak percaya, periksa para penguasa
apa kupingnya masih nempel di kepala!
Jangan suka salah sangka
demokrasi bukan rakyat yang kuasa
Kalau hutan dan tambang dijarah seenaknya
memang situ mau apa!
Ling molang maling gemblung
royokan balung gemblung
ling molang maling gemblung
balapan sinting gemblung
Dari Sabang sampai Merauke
berjajar maling-maling
sambung menyambung menjadi satu
namanya pasar maling
Para maling bersekongkol
menyandera masa depan
Nilai diputarbalikkan
jadi saham perdagangan.
SULUK KECELIK
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Mei Sri Ningsih, Pendi Sukarjo
Kukira kau yang kutunggu
kukira kau yang kurindu
ternyata kau juga penipu
ternyata kau juga pemalsu
Dulu musuhku satu
kini musuhku beribu
dulu kutahu musuhku
kini musuhku tak tentu
Ya Allah, terbakar bumiMu
ya Rabbi, terpanggang hambaMu
nafsu yang memimpinku
lapar yang memilinku
Kukira waktu sudah berlalu
kukira jamannya sudah baru
ternyata wajahnya tetap itu
ternyata gilanya makin menggebu
Sekarang engkau marah pada cermin itu
wajah yang nongol tak lagi kau kenali
beribu kali kau pandang beribu kali kau pangling
gambarnya asing dan membuatmu gamang
Berulang kau ganti cermin atau kau pecahkan
gambar-gambarnya tak juga hilang
meneror kamu sampai ke impian.
Kau bayangkan para malaikat akan menyelamatkan keadaan
dan kini terkaget-kaget kau lihat kenyataan
gerombolan iblislah yang kembali mengangkangi kekuasaan
Kukira kau sang pembaru
kukira kau sang penyeru
ternyata kau cuma penyaru
ternyata kau cuma peniru
Dulu musuhku satu
kini musuhku beribu
dulu kutahu musuhku
kini musuhku tak tentu
Ya Allah, terbakar bumiMu
ya Rabbi, terpanggang hambaMu
nafsu yang memimpinku
lapar yang memilinku
Kukira ku buru surgaMu
kukira ku takut nrakaMu
ternyata kudekap apiMu
ternyata kutolak cahyaMu
SULUK KIAMAT
alias BERSAMA KITA GILA
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin.
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran.
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin, Kristomo, Pendi Sukarjo.
Bersama kita gila
membangun kiamat
rontokkan hutan gangsir tambang
gelisahkan laut marahkan udara
bumi oleng
dan babak belur kita diayunnya
Bersama kita gila
merancang neraka
ngrampok masa depan habiskan harapan
berhalakan impian kobarkan dendam
bumi membara
dan terpanggang kita ditengahnya
Kiamat, kita pembangunnya
neraka, kita perancangnya
jangan tuding pelaku lainnya
agar bisa jadi pahlawannya.
Bersama kita gila
sambil merasa sebaliknya!
SULUK MONTANG-MANTING
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin.
Kubaca angin
kubaca gelombang
kubaca matahari
kubaca rembulan
kubaca mimpi
kubaca harapan
wajahMu terhampar sunyi di ufuk kenyataan
mata buta kami tak membacanya
hati nista kami tak kuasa menyapanya
Di ujung kegelapan
orang berbaris berpedang
menarikan kegilaan
menorehkan dendam
Pembangunan dirancang bukan demi kebutuhan
tapi karena proyek harus diciptakan
dan para pemimpin butuh lebih banyak simpanan
Awan berarak
daun berserak
ranting berderak
wajah ngungun letih mendongak
langit sesak gambar congkak
bumi letih merangkak
Ini negeri makin tidak jelas cita-citanya
fakta fiksi gampang dipertukarkan
akal sehat dihajar habis-habisan
kebenaran ditelikung kepentingan
otak bangsa diimpor dari negeri khayalan
roda kehidupan diputar oleh mesin pinjaman
kekayaan dikuras demi mimpi semalam
Ya Allah ya Robbi
ini makin gila
takut bayangan
nyawa dipertaruhkan
Ya Allah ya Robbi
akal sehat dimana
demi impian
nyebar ketakutan
Kalaulah engkau cari kuasa
kalaulah engkau ingin digdaya
kenapa kami jadi tumbalnya
kenapa kami yang nanggung biayanya
Ya Allah ya Robbi
ini pemimpin apa
untuk omong kosong
rakyat dikorbankan
Ya Allah ya Robbi
ini mau dibawa kemana
bencana tak henti
malah membangun kehancuran
Kalaulah engkau cari kuasa
kalaulah engkau ingin digdaya
kenapa kami jadi tumbalnya
kenapa kami yang nanggung biayanya
SULUK MABUK SEGALA JURUSAN
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin, Kristomo
Karena tiap kata kamu rampok maknanya
karena tiap bahasa kamu preteli pengertiannya
karena tiap tanda kamu kubur isyaratnya
maka kami memilih lupa!
Karena tiap pikiran kamu perdayai bentuknya
karena tiap mimpi kamu kurung batasnya
karena tiap langkah kamu hadang arahnya
maka kami memilih lupa!
Karena tiap kami ucapkan satu kata, kamu bombardir dengan ribuan wacana
karena tiap kami gerakkan satu tangan, kamu cegat dengan ribuan tandingan
karena tiap kami tuntut satu perubahan, kamu serbu dengan ribuan keributan
maka kami memilih lupa!
Karena kamu babat hutan, sedang kami makan asapnya
karena kamu ludaskan warisan, sedang kami kebagian sakitnya
karena kamu manfaatkan jabatan, sedang kami membayar hutangnya
maka kami bilang: prek!
Kamu bilang keadilan, kami bilang: prek!
Kamu bilang kemakmuran, kami bilang: prek!
Kamu bilang kesejahteraan, kami bilang: prek!
Kamu bilang kemajuan, kami bilang: prek!
Kamu bilang pembangunan, kami bilang: prek!
Kamu bilang pemerataan, kami bilang: prek!
Kamu bilang penyetaraan, kami bilang: prek!
Kamu bilang pembaruan, kami bilang: prek!
Karena kamu ugal-ugalan
kami mabuk habis-habisan
menenggak tuntas anggur yang kamu tuangkan!
Kami kutuk catatan
kami sumpahi ingatan
kami ludahi kesadaran.
Karena udara kamu penuhi pesan, jalanan kami banjiri makian
karena ruang kamu penuhi iklan, lorong-lorong kami sumpal kebencian
karena berita kamu penuhi tipuan, selokan-selokan kami sampahi dendam
kami mabuk habis-habisan!
Bukit-bukit kami longsorkan
sungai-sungai kami luapkan
dan kami ejek kamu di pojok-pojok jalan!
Kami mabuk habis-habisan
kami melayang-layang
kami terbang
sampai daun terakhir ditemukan
sampai gurun tandus penghabisan!
Pohon-pohon kami sikat
tambang-tambang kami curi
dan kami palak kamu tiap pemilihan!
Anginnya marah
lautnya tumpah
gunungnya balapan bubrah
Tanahnya rekah
udara gerah
langitnya jadi memerah
Semua dijarah
semua diperah
buminya meradang marah.
SULUK SUNYI
Lirik: Anis Sholeh Ba’asyin
Lagu: Orkes Puisi Sampak GusUran
Arransemen: Dedy Taufiq, Orkes Puisi Sampak GusUran
Vokal: Anis Sholeh Ba’asyin, Mei Sri Ningsih
1.
Atau langit yang enggan terbuka?
Atau rembulan yang belum purnama?
Atau matahari yang masih menutup mata?
Atau gerhana yang selalu bertahta?
Atau bumi yang tersesat jalannya?
2.
Berlayar di samudra sunyi tak bertepi,
berperahu mati.
Tanda-tanda tak berbunyi,
bahasa tak bisa diwadahi.
Menggigil sendiri.
Tak tahu dimana batas menanti.
tak ada jejak ditapaki,
gelap dan cahaya hilang arti.
Berlayar di samudra sunyi tak bertepi,
ke rumah para nabi mulai.
3.
Langit berawan membuat mata tak jernih memandang,
bukan kebutaan yang disesalkan, tapi bayangan yang menyesatkan
bukan ilmu atau kejahilan yang mengacaukan, tapi prasangka yang menggelincirkan
bukan iman atau kekafiran yang membingungkan, tapi citra yang menjerumuskan
Haihata, haihata,
seumur-umur kita tipu kebenaran!
4.
Kemiskinan, kelaparan, anak-anak keleleran di pinggir jalan
akan merampok surga yang kau bayangkan
dalam nyenyak ketidak adilan
5.
Pergilah!
Ke subuh yang siap membuka cahaya
ke angin yang siap meneteskan hujan
ke tanah yang siap melahirkan bunga
Pergilah!
6.
Ya, bagaimana jadi udara bila menolak sirna?
Ya, bagaimana jadi tanah bila menolak terurai?
Ya, bagaimana jadi samudra bila menolak cair?
Ya, bagaimana jadi cahaya bila menolak luluh?
7.
Tanggal tinggal tunggal
yang tak dibutakan kerinduan
dibutakan keasingan
yang tak mabuk anggur
mabuk racun
yang tak dikaramkan cahaya
dikaramkan kegelapan
yang tak luruh pada dzat
luruh pada af’al
Tanggal tinggal tunggal
segenap permainan
bukan ukuran
8.
Aku ingin dipeluk
sampai tumpas tubuh
sampai tandas jiwa
tak tersisa
Aku ingin dipeluk
sampai lunas aku
sampai habis kau
tak tertinggal
Aku ingin dipeluk
sampai sunyi
mati!
Orkes Puisi Sampak GusUran
Pengantar
Orkes Puisi
Bersama Kita Gila
wis ngedan isih ora keduman
Anis Sholeh Ba'asyin
dan Sampak GusUran
Jaman akhir, banyak yang nelangsa
bicara boleh saja, didengar urusan lainnya
Kalau tak percaya, periksa para penguasa
apa kupingnya masih nempel di kepala!
Seharusnya kita banyak bersyukur karena hidup di negeri paling kaya di dunia. Bayangkan, begitu kayanya akan sumber daya alam, sampai-sampai kita tak enak hati pada negeri-negeri lain yang tak sekaya kita. Karena itu, untuk menjaga etika pergaulan antar negara; sebagai bangsa penyayang dan tuan rumah yang penuh pengertian, tak berlebihan bila kita merasa wajib mempersilahkan para tamu asing untuk lebih dulu menyantap habis kekayaan alam kita.
Kecuali itu, kita juga kaya warisan budaya. Begitu kayanya sehingga tak harus merasa kehilangan bila peninggalan-peninggalan dari masa silam diangkut sebagai cindera mata ke negeri orang.
Ingat, kita juga kaya milyarder. Pertumbuhan milyader kita tercatat paling pesat di dunia. Ini hampir-hampir menandakan bahwa rakyat kita sudah montok-montok dan bahagia, meninggalkan garis kemiskinan jauh di belakang.
Soal koruptor? Jangan ditanya! Begitu kayanya kita, sehingga raibnya seratus-dua ratus koruptor dari daftar, tak akan membuat perbedaan yang signifikan.
Jangan lupa, kita juga kaya bencana. Begitu kaya, sehingga jumlahnya tak bakal menyusut setitikpun, andaikata kita lupa mengurusnya. Bahkan, tak terlalu salah untuk mulai mempertimbangkan masuknya ‘wisata bencana’ sebagai salah satu program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Bukankah lokasi bencana terbukti selalu berhasil menjadi magnit penarik minat wisatawan asing maupun domestik?
Dan hebatnya lagi, kekayaan kita ternyata juga mencakup tataran ’spiritual’. Kita bisa berbangga bukan cuma karena di tataran ini kita punya banyak nabi baru; tapi karena bangsa malaikatpun tampaknya juga merasa tertarik untuk ikut bertamasya di negeri kita. Yang harap-harap cemas masih kita tunggu adalah perkembangan lanjutnya, yaitu hadirnya Tuhan itu sendiri. Bayangkan, betapa makin sempurnanya kekayaan negeri kita, bila -setelah punya nabi dan malaikat- kita juga punya lima atau enam orang yang tiba-tiba merasa jadi tuhan.
Sejujurnya, inilah yang melatar belakangi pembuatan album orkes puisi kami. Kami ingin berbagi kebahagiaan sebagai warga negeri terkaya di dunia. Semoga kebahagiaan yang sama bisa ikut anda rasakan.
Tentang Anis Sholeh Ba’asyin:
Anis Sholeh Ba’asyin sudah aktif menulis puisi dan esai sejak ’79. Puisinya tersebar di banyak media dan antologi. Kumpulan puisinya ‘Orang Pinggir Jalan’ (YP3M Prakarsa, 1982), ‘Kisah Pertobatan Senti’ (YP3M Prakarsa 1984), ’Potret Iblis’ (KPK, 1992) dan ”Jaman Gugat” (Taman Budaya Jawa Tengah, 2007).
Tahun ’90-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media; juga menjadi penulis
kolom tetap di beberapa media. Sejak 2005, bersama kelompok Sampak GusUran, aktif mengelilingkan orkes puisi dari kumpulan puisi terbarunya ke berbagai daerah.
Baik sendiri maupun bersama Orkes Puisi Sampak GusUran, dia terlibat aktif dalam banyak gerakan sosial-budaya dan keagamaan. Tema puisinya yang beragam -dari masalah sosial hingga renungan sufis- membuat dia bisa tampil baik dalam demo maupun pengajian. Aktivitasnya ini melebar dari pelosok desa sampai pusat-pusat kebudayaan.
Tentang Persaudaraan Orkes Puisi Sampak GusUran
Orkes Puisi Sampak GusUran resmi dibentuk 2005. Yaitu ketika Anis Sholeh Ba’asyin diminta mementaskan kembali puisi musik yang di era 80-an suntuk digelutinya.
Sejak saat itu, disepakati untuk menyebut format pentas puisi musik ini sebagai Orkes Puisi. Sebutan ini sengaja dipilih, karena dianggap mampu mewadahi keinginan awal untuk menafsirkan, mengawinkan dan mengorkestrasikan puisi dalam komposisi-komposisi musikal. Kecuali itu, format orkes puisi juga dianggap mampu menjadi jembatan untuk lebih mendekatkan muatan puisi pada masyarakatnya.
Nama sampak diambil dari jenis irama musik dalam pagelaran wayang, yang biasanya dipakai untuk mengiringi adegan perang. Sedang GusUran, sebenarnya bisa dibaca sebagai permainan bentuk penulisan dari kata gusuran, yang berkonotasi keterpinggiran. Atau, bisa juga, kata Uran dibaca sebagai bentuk jamak kata ’uro-uro’ atau bersenandung dalam kosa kata Jawa.
Sementara dalam bermusik, kelompok ini mencoba menerjemahkan ke-Indonesia-an secara lebih dinamis; yaitu dengan menyerap semangat serta komposisi musik-musik etnik dan tradisi, dan meraciknya dengan mosaik musikalitas baru yang tumbuh di masa kini. Dengan cara ini, bukan cuma puisinya yang diusahakan membumi, tapi juga orkestrasi musiknya. Semoga hasilnya tak jauh panggang dari api.
Kelompok ini menyebut dirinya sebagai sebuah persaudaraan, karena selain bermusik mereka juga mengembangkan banyak aktivitas untuk saling menjaga dan menumbuh kembangkan kepekaan hidup sesama anggota. Bermusik adalah salah satu kegiatan persaudaraan ini, disamping kegiatan diskusi rutin dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Nama Kelompok: Orkes Puisi Sampak GusUran
Pimpinan : Anis Sholeh Ba'asyin
Alamat : Jl. KH. Wahid Hasyim No 4 – Pati 59114
Website : sampak-gus-uran.blogspot.com
E-mail : sampak_gusuran@yahoo.co.id
Anis Sholeh Ba'asyin: Pembaca Puisi, Vokal.
Dedy Taufiq: Gitar elektrik dan akustik, backing vokal dan pengatur musik.
Krishadi Setiawan: Gitar elektrik dan akustik, backing vokal.
Yusfi Adrian: Bass, backing vokal.
Wahyu Widianto: Keyboard, vokal.
Rahmat Syafi’i: Drum, SPD, jimbe, kabasa, marakaz, backing vokal.
Anang Maulana: Biola, gitar akustik, backing vokal.
Gunarto: Saron, suling, harmonika, backing vokal.
Muhammad Nur Zaini: Saron, suling, terompet, vokal.
Pendi Sukarjo: Demung, jimbe, ukulele, didjeridu, vokal.
Muhammad Yani: Terbang, marawis, backing vokal.
Lilik Puji Utomo: Terbang, marawis, backing vokal.
Jumiono: Terbang, marawis, backing vokal.
Mei Sri Ningsih: Vokal.
Kristomo: Vokal.
Zubaid: Backing Vokal
Setiasi Hadi: Backing Vokal
Kariyadi: Backing Vokal
Kru Pedukung:
Budiyono S.Sn: Penari.
Djoko Wahjono: Penata Artistik.
Susilo Tomo: Pembantu Penata Artistik.
2005:
2. Suluk Sunyi, Renungan Tahun Baru, Gedung Haji, Gabus.
2006:
2. Suluk Mbambung, Bambang Sadono Mantu, Semarang
3. Suluk Sunyi, Gedung Kesenian Rembang, Rembang
4. Suluk Penyucian, Halal Bil Halal Garudafood, Lapangan Garuda, Pati
5. Jaman Gugat, Pentas Seni Akhir Tahun, Stadion Joyokusumo, Pati.
2007:
2. Jaman Gugat, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.
3. Bersama Kita Gila, Kompleks GOR Wergu, Kudus.
4. Suluk Pintu Tertutup, Pentas Seni Tolak Nuklir, Kompleks GOR. Kudus.
5. Suluk Matangpuluh, Convention Hall Salza, Pati.
6. Suluk Ojo Ngedan, Doa Bersama Menolak PLTN, Lapangan Ngabul, Jepara.
7. Suluk Ojo Ngedan, Apel Tolak PLTN Muria, Alun-alun, Kudus.
8. Suluk Ojo Ngedan, Ngaji Bareng Tolak Nuklir, Alun-alun, Pati.
9. Suluk Penyatuan, Gus Mus Mantu, Rembang.
10. Suluk Penyatuan, Nganten Ing Desa, Kayen.
11. Suluk Kewarasan, Tasyakuran Merdeka Kiai – Santri, Ngaliyan – Semarang.
12. Sak Edan-edane Wong Edan, Luwih Edan Wong Edan PLTN, Jawa Tengah Menolak PLTN, Halaman DPRD I Jateng, Semarang.
13. Suluk Cahaya, Renungan Nuzulul Qur’an, Desa Calon Tapak Nuklir Balong, Jepara.
14. Membaca NamaNya, Pembukaan MTQ Jateng, Alun-alun Pati.
15. Bersama Kita Gila, Panggung Seni Seribu Bunga, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.
16. Suluk Tinggal Tunggal, Gabus, Pati.
2008:
1. Suluk Pintu Terkunci, Kongres Sastra Indonesia, Kudus
2. Suluk Hijrah, Perayaan Hijrah Menganyam Indonesia Baru, Pati
3. Suluk Kebanjiran, Balai Kota Surakarta.
4. Bersama Kita Gila, Aksi Bersama Penyelamatan Gunung Kendeng, Sukolilo.
5. Suluk Pintu Terkunci, Sastra Balik Desa, Gebyog, Semarang.
6. Suluk Negeri Jadi-jadian, Teater Kecil TIM, Jakarta.
7. Bersama Kita Gila, Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.











